Setiap kali saya bertemu tidak sengaja dengan teman Indonesia, hal pertama yang mereka tanyakan selalu, "Gimana kuliahnya, berat?" Jawaban saya, "InsyaAllah kuliahnya sih nggak berat. Nggak ada warung dan cuacanya ini lho.. yang lebih berat." Ekspresi biasa yang saya terima adalah kebengongan temen saya dalam beberapa detik. "Mm warung ya?" dengan nada bingung mau menanggapi apa atau sedikit aneh dan tersenyum kecil menganggap saya masih 'udik' dan tidak berkelas walopun sudah tinggal di negara 4 musim.
Ya, buat saya, justru dua hal itu yang terasa lebih berat di jalani disini daripada kuliah. Terberat pertama adalah ketiadaan warung yang bisa
stand-by 24 jam. Warung apa sajalah itu yang berkaitan dengan makanan 'jadi', ringan atau berat tidak menjadi masalah. Terberat kedua adalah cuaca (di musim dingin tentunya). Serasa menghabiskan hari-hari di puncak gunung kalau di Indonesia (
even worst than that, I guess). Baju berlapis-lapis. Bersepatu. Berkaus kaki double kalau perlu. Tidak lupa jaket, syal dan kaus tangan, jika masih merasa terlalu dingin, penutup kepala perlu untuk ikut serta. Persiapan yang panjang hanya sekedar untuk keluar beberapa menit membeli susu atau roti di supermarket sebelah. Sangat merepotkan untuk saya yang terbiasa keluar dengan style santai dan bersendal ria. Selebihnya kuliah hanyalah sebuah rutinitas yang perlu dianggap mengasyikkan dan menantang untuk dijalani.
Beban kuliah memang berat, 1 mata kuliah terkadang bisa diisi oleh 2 hingga 4 orang dosen, masing-masing menerangkan materi yang berbeda-beda sesuai dengan bidang keahlian. Artinya bahwa, kita sebagai mahasiswa ini harus mempelajari minimal 2 hingga beberapa bidang yang berbeda dalam satu term waktu yang bersamaan (tergantung jumlah dosen yang memberikan kuliah). Pertanyaan-pertanyaan dalam ujian juga merupakan hasil kompilasi pertanyaan dari beberapa orang dosen tersebut. Terbayanglah berapa banyak materi yang harus dipelajari untuk mempersiapkan ujian 1 mata kuliah saja. Belum lagi ditambah tugas-tugas laporan, esai dan presentasi. Masih beruntung bila tugas itu dikerjakan secara individu, yang berarti waktu pengerjaan lebih fleksibel dan materi tugas tidak terlalu banyak. Beda halnya bila tugas itu harus diselesaikan secara berkelompok. Materi tugas tentu menjadi lebih luas dan lebih rumit. Waktu pengerjaan harus selalu dikonfirmasikan bersama terlebih dahulu, agak memusingkan bila teman satu kelompok kita ternyata bukan dari satu jurusan, tapi 'orang lain' yang tertarik mengambil mata kuliah itu di jurusan kita. Terkadang kondisi ini, diperparah pula dengan 'menghilangnya' teman satu kelompok dalam rangka 'mudik', sedangkan waktu pengumpulan sudah mendekati deadline (biasanya hal ini terjadi kalau deadline tugas melewati masa liburan yang lumayan panjang). Arrghh!!!! BT yang ada...
Tapi sesibuk-sibuknya kuliah dengan segala tetek bengek tugasnya, saya masih merasakan hal yang sudah sangat biasa saya jalani sebelumnya, dan tentunya masih sangat lebih ringan beban tanggung jawabnya bila dibandingkan membuat laporan di dunia 'nyata' (baca : dunia kerja). Pulang malam ato pulang pagi (bahkan sering tidak pulang hehe) hanya sekedar untuk mengerjakan tugas-'tugas' ('tugas' = tugas kepanitiaan, tugas organisasi, tugas nongkrong, dll - red) di masa kuliah S1 dulu sudah menjadi makanan sehari-hari.
Selama masa-masa (lalu) itu, yang membuatnya menjadi lebih ringan untuk dijalani adalah kenyataan bahwa saya selalu 'ditemani' gerobak gorengan yang setia dan warung pecel lele. Dua dari beberapa sumber 'asupan' energi saya. Perut keroncongan sedikit karena terlalu banyak berpikir pilihan pertama selalu membeli gorengan. Penganan ringan yang 'pas' di perut. Tidak terlalu ringan seperti kerupuk, keripik dan saudara-saudaranya, tetapi juga tidak seberat makan nasi dan lauk pauknya. Setidaknya mengganjal perut untuk sementara hingga pekerjaan selesai dilakukan tanpa harus mengalihkan konsentrasi sepenuhnya ke hal lain (makanan-red). Karena banyaknya penjual gorengan, terutama di malam hari, sebagai konsumen kita sendiri memang harus pintar-pintar memilih mana yang enak dan mana yang murah hati (biasanya selalu memberi bonus 1 atau 2 biji tempe goreng atau bala-bala hehe), sehingga bila kedua kriteria itu terpenuhi bisa dipastikan tukang gorengan itu pasti menjadi favorit anak-anak kos, seperti saya.
Kalau rasa lapar sudah tidak bisa di'sogok' dengan gorengan lagi, maka pecel lele menjadi pilihan pertama saya, disamping sate, nasi goreng, nasi padang, rawon, capcay dan sebagainya yang masih termasuk deretan jajanan berat yang tersedia di warung-warung daerah Balubur, Simpang, Dago, Dipati Ukur atau area-area lain yang bisa dicapai dengan jalan kaki atau minimal 5 menit naik motor dari kampus. Sengaja memilih lokasi makan yang dekat, menjaga supaya tidak keterusan ngeluyur dan akhirnya lupa dengan kerjaan.
Kenapa pecel lele? Karena bagi saya makanan tersebut tidak banyak minyak, tidak perlu kuah dan tidak banyak bumbu. Biasanya dengan begitu jarang membuat perut saya mules-mules karena 'penyesuaian' dengan komposisi bahan asal makanan. Kalaupun dihidangkan bersama sambal, saya masih punya pilihan untuk memakan sambal itu atau tidak. Setidaknya sebagai tindakan antisipasi pertama untuk mencegah sakit perut karena sambal yang sudah lama, tidak enak atau terlalu pedas untuk ukuran saya. Paling menyenangkan bila menemukan warung yang bisa membuat sambal yang sedap. Memang yang menjadi ukuran saya untuk memfavoritkan warung pecel lele adalah sambalnya. Walaupun lelenya hambar-hambar pisang, tetap bisa ditolong dengan rasa sambal yang sedap dan menambah nafsu makan. Apalagi kalau si warung bisa mengolah dan menggoreng ikannya dengan baik. Garing dan gurih. Sudah pastilah, tampang saya akan sering terlihat nongkrong di warung itu. Kadang penjualnya pun sampai hapal dengan saya dan menu yang saya pesan. Bahkan belum sempat setor muka di depan penjualnya, ada yang sudah tahu kalau saya yang datang, saking hapalnya dengan suara motor saya.
Ditengah padatnya aktivitas, adanya gerobak gorengan dan warung pecel lele buat saya sangat membantu mengefisienkan kerja otak dan fisik untuk mempersiapkan suplai energi. Walaupun keduanya tidak bisa dikatakan termasuk makanan 4 sehat 5 sempurna tapi setidaknya bisa menjaga saya untuk tidak ambruk di tengah jalan. Sayangnya, menemukan dua penjual itu disini lengkap dengan kriteria tersedia selama 24 jam nya sama saja seperti janji-janji politikus. Terpaksalah saya dengan berberat hati menghipnotis otak dan mengebalkan lidah dengan yang namanya roti. Penganan paling praktis dan relatif murah. Praktis disiapkan. Praktis dibawa-bawa. Praktis disimpan (tidak cepat busuk). Hanya untuk urusan rasa, sangat tidak dijamin nikmat bagi ukuran lidah saya. Demi supaya bisa tetap beraktifitas saja akhirnya saya mau tidak mau membawa bekal roti kemana-mana. Apalagi untuk persiapan-persiapan jadwal kuliah, praktikum dan pengerjaan tugas hingga malam hari. Merananya kalau hanya mengharapkan makanan dari kantin. Kantin fakultas tutup sejak dari jam 4 sore, itupun yang dijual lagi-lagi roti, muffin, croissant, dan semacam choco chips biskuit dengan ukuran yang lebih besar. Kantin kampus buka hanya sampai jam 7 malam, itupun bukan termasuk kantin pilihan saya karena harga makanannya cukup bisa membuat program hemat-untuk-jalan-jalan saya morat marit. Kantin fakultas-fakulas yang lain biasanya lepas dari jam 5 sore juga sudah tutup lagipula jaraknya terlalu jauh untuk sekedar mencari makan. Akhirnya yang ada hanya mesin-mesin penjual roti dan coklat. Bagaimana bisa berpikir kalau energi saja tidak tercukupi. Bagaimana akan betah membaca buku dan artikel berjam-jam kalo perut berisik minta diisi lagi beberapa menit setelah diganjal coklat. So, bagi saya bukan proses belajarnya yang berat tapi justru pengaturan proses penyuplaian energi dengan benar dan tertib ini yang sempat bikin kalang kabut :P.
Yah... walaupun hujan batu di negara sendiri, tapi yang namanya makanan murah-meriah-mengenyangkan masih lebih mudah dicari. Salah satu dari sekian banyak hal yang tetap membuat saya ingin pulang.
Teriring salam buat bapak tua penjual gorengan di depan kampus Ganesha yang selalu ada hingga jam 3 pagi walau harus terkantuk-kantuk sambil menahan dinginnya udara Bandung. Saya tidak pernah hutang lho, Pak!
Labels: Daily Life