EDELWEISS..

The Flower of Freedom... The Flower of Bravery...

Wednesday, October 24, 2007

Sekilas TRIP Steel

Setiap tahap akhir kuliah, mulailah kita mengerjakan yang namanya final project. Dan seperti pengalaman 4 tahun lalu, pasti akan dihadapkan dengan karakter "supervisor" yang mau tidak mau membutuhkan kesabaran kita untuk mengerti kemauan dan kondisi emosi dia (atau dalam kasus saya, mereka) sehingga kita bisa tetap berpikiran jernih untuk tidak terjebak pada rasa "gondok" kita dan tetap semangat mengerjakan final project. Tapi, lepas dari suka duka menghadapi supervisor(s) itu, saya hanya ingin berbagi mengenai apa yang tengah saya kerjakan.

Adalah TRIP Steel, baja yang saat ini tengah jadi primadona untuk aplikasi otomotif, yang sedang saya utak utik. Baja ini memiliki perpaduan sifat antara kuat dan mudah di bentuk. Trend kebutuhan industri otomotif yang menginginkan paduan yang ringan namun kuat, guna menghemat energy yang dibutuhkan, membuat penelitian mengenai berbagai sifat baja ini 'digemari' oleh banyak orang.

Labels:

Friday, December 01, 2006

Gorengan dan Pecel Lele

Setiap kali saya bertemu tidak sengaja dengan teman Indonesia, hal pertama yang mereka tanyakan selalu, "Gimana kuliahnya, berat?" Jawaban saya, "InsyaAllah kuliahnya sih nggak berat. Nggak ada warung dan cuacanya ini lho.. yang lebih berat." Ekspresi biasa yang saya terima adalah kebengongan temen saya dalam beberapa detik. "Mm warung ya?" dengan nada bingung mau menanggapi apa atau sedikit aneh dan tersenyum kecil menganggap saya masih 'udik' dan tidak berkelas walopun sudah tinggal di negara 4 musim.

Ya, buat saya, justru dua hal itu yang terasa lebih berat di jalani disini daripada kuliah. Terberat pertama adalah ketiadaan warung yang bisa stand-by 24 jam. Warung apa sajalah itu yang berkaitan dengan makanan 'jadi', ringan atau berat tidak menjadi masalah. Terberat kedua adalah cuaca (di musim dingin tentunya). Serasa menghabiskan hari-hari di puncak gunung kalau di Indonesia (even worst than that, I guess). Baju berlapis-lapis. Bersepatu. Berkaus kaki double kalau perlu. Tidak lupa jaket, syal dan kaus tangan, jika masih merasa terlalu dingin, penutup kepala perlu untuk ikut serta. Persiapan yang panjang hanya sekedar untuk keluar beberapa menit membeli susu atau roti di supermarket sebelah. Sangat merepotkan untuk saya yang terbiasa keluar dengan style santai dan bersendal ria. Selebihnya kuliah hanyalah sebuah rutinitas yang perlu dianggap mengasyikkan dan menantang untuk dijalani.

Beban kuliah memang berat, 1 mata kuliah terkadang bisa diisi oleh 2 hingga 4 orang dosen, masing-masing menerangkan materi yang berbeda-beda sesuai dengan bidang keahlian. Artinya bahwa, kita sebagai mahasiswa ini harus mempelajari minimal 2 hingga beberapa bidang yang berbeda dalam satu term waktu yang bersamaan (tergantung jumlah dosen yang memberikan kuliah). Pertanyaan-pertanyaan dalam ujian juga merupakan hasil kompilasi pertanyaan dari beberapa orang dosen tersebut. Terbayanglah berapa banyak materi yang harus dipelajari untuk mempersiapkan ujian 1 mata kuliah saja. Belum lagi ditambah tugas-tugas laporan, esai dan presentasi. Masih beruntung bila tugas itu dikerjakan secara individu, yang berarti waktu pengerjaan lebih fleksibel dan materi tugas tidak terlalu banyak. Beda halnya bila tugas itu harus diselesaikan secara berkelompok. Materi tugas tentu menjadi lebih luas dan lebih rumit. Waktu pengerjaan harus selalu dikonfirmasikan bersama terlebih dahulu, agak memusingkan bila teman satu kelompok kita ternyata bukan dari satu jurusan, tapi 'orang lain' yang tertarik mengambil mata kuliah itu di jurusan kita. Terkadang kondisi ini, diperparah pula dengan 'menghilangnya' teman satu kelompok dalam rangka 'mudik', sedangkan waktu pengumpulan sudah mendekati deadline (biasanya hal ini terjadi kalau deadline tugas melewati masa liburan yang lumayan panjang). Arrghh!!!! BT yang ada...

Tapi sesibuk-sibuknya kuliah dengan segala tetek bengek tugasnya, saya masih merasakan hal yang sudah sangat biasa saya jalani sebelumnya, dan tentunya masih sangat lebih ringan beban tanggung jawabnya bila dibandingkan membuat laporan di dunia 'nyata' (baca : dunia kerja). Pulang malam ato pulang pagi (bahkan sering tidak pulang hehe) hanya sekedar untuk mengerjakan tugas-'tugas' ('tugas' = tugas kepanitiaan, tugas organisasi, tugas nongkrong, dll - red) di masa kuliah S1 dulu sudah menjadi makanan sehari-hari.

Selama masa-masa (lalu) itu, yang membuatnya menjadi lebih ringan untuk dijalani adalah kenyataan bahwa saya selalu 'ditemani' gerobak gorengan yang setia dan warung pecel lele. Dua dari beberapa sumber 'asupan' energi saya. Perut keroncongan sedikit karena terlalu banyak berpikir pilihan pertama selalu membeli gorengan. Penganan ringan yang 'pas' di perut. Tidak terlalu ringan seperti kerupuk, keripik dan saudara-saudaranya, tetapi juga tidak seberat makan nasi dan lauk pauknya. Setidaknya mengganjal perut untuk sementara hingga pekerjaan selesai dilakukan tanpa harus mengalihkan konsentrasi sepenuhnya ke hal lain (makanan-red). Karena banyaknya penjual gorengan, terutama di malam hari, sebagai konsumen kita sendiri memang harus pintar-pintar memilih mana yang enak dan mana yang murah hati (biasanya selalu memberi bonus 1 atau 2 biji tempe goreng atau bala-bala hehe), sehingga bila kedua kriteria itu terpenuhi bisa dipastikan tukang gorengan itu pasti menjadi favorit anak-anak kos, seperti saya.

Kalau rasa lapar sudah tidak bisa di'sogok' dengan gorengan lagi, maka pecel lele menjadi pilihan pertama saya, disamping sate, nasi goreng, nasi padang, rawon, capcay dan sebagainya yang masih termasuk deretan jajanan berat yang tersedia di warung-warung daerah Balubur, Simpang, Dago, Dipati Ukur atau area-area lain yang bisa dicapai dengan jalan kaki atau minimal 5 menit naik motor dari kampus. Sengaja memilih lokasi makan yang dekat, menjaga supaya tidak keterusan ngeluyur dan akhirnya lupa dengan kerjaan.

Kenapa pecel lele? Karena bagi saya makanan tersebut tidak banyak minyak, tidak perlu kuah dan tidak banyak bumbu. Biasanya dengan begitu jarang membuat perut saya mules-mules karena 'penyesuaian' dengan komposisi bahan asal makanan. Kalaupun dihidangkan bersama sambal, saya masih punya pilihan untuk memakan sambal itu atau tidak. Setidaknya sebagai tindakan antisipasi pertama untuk mencegah sakit perut karena sambal yang sudah lama, tidak enak atau terlalu pedas untuk ukuran saya. Paling menyenangkan bila menemukan warung yang bisa membuat sambal yang sedap. Memang yang menjadi ukuran saya untuk memfavoritkan warung pecel lele adalah sambalnya. Walaupun lelenya hambar-hambar pisang, tetap bisa ditolong dengan rasa sambal yang sedap dan menambah nafsu makan. Apalagi kalau si warung bisa mengolah dan menggoreng ikannya dengan baik. Garing dan gurih. Sudah pastilah, tampang saya akan sering terlihat nongkrong di warung itu. Kadang penjualnya pun sampai hapal dengan saya dan menu yang saya pesan. Bahkan belum sempat setor muka di depan penjualnya, ada yang sudah tahu kalau saya yang datang, saking hapalnya dengan suara motor saya.

Ditengah padatnya aktivitas, adanya gerobak gorengan dan warung pecel lele buat saya sangat membantu mengefisienkan kerja otak dan fisik untuk mempersiapkan suplai energi. Walaupun keduanya tidak bisa dikatakan termasuk makanan 4 sehat 5 sempurna tapi setidaknya bisa menjaga saya untuk tidak ambruk di tengah jalan. Sayangnya, menemukan dua penjual itu disini lengkap dengan kriteria tersedia selama 24 jam nya sama saja seperti janji-janji politikus. Terpaksalah saya dengan berberat hati menghipnotis otak dan mengebalkan lidah dengan yang namanya roti. Penganan paling praktis dan relatif murah. Praktis disiapkan. Praktis dibawa-bawa. Praktis disimpan (tidak cepat busuk). Hanya untuk urusan rasa, sangat tidak dijamin nikmat bagi ukuran lidah saya. Demi supaya bisa tetap beraktifitas saja akhirnya saya mau tidak mau membawa bekal roti kemana-mana. Apalagi untuk persiapan-persiapan jadwal kuliah, praktikum dan pengerjaan tugas hingga malam hari. Merananya kalau hanya mengharapkan makanan dari kantin. Kantin fakultas tutup sejak dari jam 4 sore, itupun yang dijual lagi-lagi roti, muffin, croissant, dan semacam choco chips biskuit dengan ukuran yang lebih besar. Kantin kampus buka hanya sampai jam 7 malam, itupun bukan termasuk kantin pilihan saya karena harga makanannya cukup bisa membuat program hemat-untuk-jalan-jalan saya morat marit. Kantin fakultas-fakulas yang lain biasanya lepas dari jam 5 sore juga sudah tutup lagipula jaraknya terlalu jauh untuk sekedar mencari makan. Akhirnya yang ada hanya mesin-mesin penjual roti dan coklat. Bagaimana bisa berpikir kalau energi saja tidak tercukupi. Bagaimana akan betah membaca buku dan artikel berjam-jam kalo perut berisik minta diisi lagi beberapa menit setelah diganjal coklat. So, bagi saya bukan proses belajarnya yang berat tapi justru pengaturan proses penyuplaian energi dengan benar dan tertib ini yang sempat bikin kalang kabut :P.

Yah... walaupun hujan batu di negara sendiri, tapi yang namanya makanan murah-meriah-mengenyangkan masih lebih mudah dicari. Salah satu dari sekian banyak hal yang tetap membuat saya ingin pulang.
Teriring salam buat bapak tua penjual gorengan di depan kampus Ganesha yang selalu ada hingga jam 3 pagi walau harus terkantuk-kantuk sambil menahan dinginnya udara Bandung. Saya tidak pernah hutang lho, Pak!

Labels:

Temen RESE!! Cuekin Aje..

Tulisan ini bukan bermaksud rasis dan menjelekkan kelompok negara tertentu. Hanya sekedar menuliskan tentang kejadian yang memang sungguh-sungguh saya alami. Sama sekali tidak ada maksud menggiring untuk membenci ato memiliki kesan negatif terhadap orang dari negara tertentu. Karena toh pengalaman masing-masing orang pasti akan berbeda-beda.

Back to school.

Kalau diingat-ingat, masa bersekolah itu selalu ada yang aneh-aneh dan lucu, terutama kalau sudah menyangkut tingkah laku temen-temen. Kadang bikin ketawa, bikin BT atau bahkan bikin tersipu-sipu. Dari sekian banyak teman-teman yang berinteraksi dengan kita itu, selalu saja ada tipikal-tipikal tertentu yang bisa ditemuin di tiap-tiap jenjang, ada yang bossy, pendiam, ramah, baik hati, sok ganteng, besar mulut, sok 'anak guru', sok jagoan, tukang mojok, tukang jajan, tukang nyontek kerjaan temen, trouble maker, culun, jadi bulan-bulanan bercandaan temen-temen (ini ni yang paling kesian) dan anak-anak populer (biasanya sih karena emang punya tampang dan gaya yang enak diliat, jadi banyak punya fans, oh ya kadang ada tambahannya juga, tajirr!!!). Tidak di SD, SMP, SMA bahkan sampai kuliah, pasti adaaaa aja orang-orang yang memegang perannya masing-masing.

Hanya ketika jenjang itu sudah lebih tinggi, ego-ego yang berbau fisik, menjadi semakin berkurang. Sudah tidak ada lagi itu yang sok jagoan macam preman pasar induk, anak yang jadi bulan-bulanan temen-temen yang lain, cowok-cowok yang sok ganteng (ato sebaliknya buat cewek-cewek, ntar dikira ngga adil lagi hehe) ato golongan anak-anak populer, yang ada justru ego yang cenderung menunjukkan bahwa dirinya yang paling 'oke', paling ngerti dan bisa 'merubah' masalah-masalah yang dianggep temen-temen lain susah menjadi hal yang gampang buat dirinya. Peace of cake!! (dagadu..)

Nah, itulah yang saya rasakan saat ini. Antara geli dan BT sebenernya kalo saya mengamati satu persatu teman-teman satu kelas saya sekarang. Benar-benar sebuah kelas International. Dengan mahasiswa 'tetap' (mahasiswa yang memang terdaftar di program master yang sama dengan saya selama 2 tahun) gabungan antara orang-orang Eropa (3 orang Belanda), orang-orang Asia (Jepang, India, Vietnam, Pakistan dan Indonesia tentunya) dan satu orang dari Amerika Selatan, Colombia. Masih ditambah pula mahasiswa-mahasiswa exchange dibawah program Erasmus yang datang-pergi 'seenaknya' di awal dan di pertengahan masa kuliah (karena hanya menempuh kuliah paling lama 1 tahun dan minimal 1 semester), yang tentunya kebanyakan berasal dari daratan Eropa (Italia, Norwegia dan Spanyol).

Tidak perlu waktu lama saya langsung bisa mengenali siapa yang senang meremehkan dan siapa yang memang benar-benar enak diajak kerjasama. Kadang karena saya masih belum terbiasa untuk berkomunikasi secara aktif dengan bahasa asing, otak saya membutuhkan waktu lama untuk menangkap informasi kemudian memproses dan megirimkan sinyal-sinyal mengerti dengan apa yang sedang disampaikan dosen-dosen saya di depan itu. Hanya untuk beberapa mata kuliah yang saya pernah mendapatkannya di S1 saja saya bisa langsung mengerti di dalam kelas. Setidaknya itu menjadi modal dasar untuk tidak sekedar bengong di dalam kelas.

Nah, karena tidak mengerti, tindakan yang paling wajar dilakukan adalah mempelajarinya sendiri lagi, bertanya langsung ke dosen ato bertanya ke teman yang sedari tadi mengangguk-angguk di kelas (sambil berisik ngomong sendiri, uh!ngeganggu banget sih!). Untuk kasus yang pertama, proses yang harus saya lakukan adalah pergi ke perpus mencari-cari buku yang saya perlu dari katalog dan meluangkan waktu beberapa jam untuk memahami. Bila belum paham juga, saya harus mencari buku yang lain lagi dan mengulangi proses yang sama. Dengan proses ini tentunya, saya tidak bisa langsung menghilangkan rasa penasaran ato kebingungan saya saat itu juga. Untuk yang kedua, proses bertemu dengan dosen untuk bertanya kadang adalah hal yang gampang-gampang susah. Sama saja seperti di Indonesia. Kalo sedang beruntung bisa langsung bertemu dosen di ruangan dan kalau beliau ada waktu luang kita bisa langsung berdiskusi. Tapi kebanyakan, kita perlu membuat janji dulu dengan beliau, bedanya kita bisa bikin janji melalui email. Terakhir proses yang paling praktis untuk memuaskan rasa ketidak tahuan adalah bertanya ke teman saat itu juga.

Pengalaman saya mengenai tipikal teman-teman saya itu bisa dibedakan dari sini, kalo teman itu suka sok merasa dia paling ngerti dan meremehkan kita yang nggak ngerti (karena bertanya ke dia), tanggapannya selalu diawali dengan kata-kata "It's easy!!!" ditambah nada dan mimik muka yang 'menyebalkan'. Syukur-syukur kalo setelah itu dia menerangkan mananya yang mudah, biasanya malah menerangkan dengan nada yang lebih cepet dari pada dosen dan justru tambah bikin gak mudeng (biasalah bahasa inggris campuran dialek India kadang susah dimengerti dengan mudah. Semacam orang bergumam). Tambah ditanya tambah bikin gak mudeng. Tidak ada waktu pula untuk sekedar membuka buku dan menunjukkan kepada saya bagian mana yang musti disambungkan ke bagian yang mananya lagi. Ujung-ujungnya kalo dia mau meng'cut' semua pertanyaan saya, "Well, kalo kamu mau sedikit memikirkan itu sendiri dirumah pasti kamu akan mengerti" Ha??!!! Bengong aja saya dapet tanggapan begitu. Yeee, kalo cuma begitu saya juga tau! Kalo udah begini paling saya cepet-cepet bilang "OK!" dengan gondoknya dan buru-buru jauh-jauh dari dia (gak boleh nonjok sembarangan sih di sini...). Lain lagi temen saya dari Vietnam yang setelah bilang bahwa apa yang saya tanyakan itu 'gampang' dan 'simple' ujung-ujungnya ketika saya kejar sampai ke konsepnya dia mentok juga dan masih meninggalkan saya dengan tanda tanya besar.


Beda dengan teman yang merasa ngerti dan ingin berbagi 'kemengertian'nya itu. Dia pasti akan menerangkan satu persatu dengan runut. Meluangkan waktu untuk membuka bukunya dan menunjukkan kepada saya bagian-bagian mana yang merupakan pertanyaan saya itu. Dan kalau saya masih tidak mengerti juga, dia akan berusaha menerangkan dari sudut pandang yang lain. Hanya dengan melihat tampang saya yang masih berkerut saja dia bisa menebak kalo saya tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dia terangkan. Biasanya kalo sudah begini, saya lebih memilih untuk mencatat semua yang telah dia terangkan dan mencoba mencari buku referensi untuk 'memperjelas'. Selalu setelah saya bilang "Thank you!" mereka akan menjawab "Don't worry! You can ask me anytime" ditambah saran-saran bagian-bagian mana saja yang sebaiknya saya baca untuk bisa memahami dengan mudah. BTnya, kalo salah satu temen eropa saya sedang menerangkan, 2 temen saya yang tadi itu kadang sering ikut-ikutan menerangkan (yang malah jadinya merecoki proses belajar saya dan membuat saya jadi gak mudeng di bagian yang mereka recoki itu.. terpaksa temen eropa saya menerangkan lagi haha). Yah.. memang tidak bisa dipukul rata bahwa semua yang dari eropa bisa diharapkan baik seperti itu (dan yang dari asia tidak atau sebaliknya). Masih ada juga yang lagaknya meremehkan setiap kali saya bertanya sesuatu yang saya kurang mengerti.

Untunglah sampai saat ini saya tidak perlu berhubungan 'langsung' dengan teman-teman saya yang kurang 'membumi' tadi. Terutama untuk mengerjakan tugas dalam kelompok. Kebayang, bakal gondok setengah mati saya kalo selalu diperlakukan sebagai congek oleh dua makhluk itu karena tidak cepat menangkap apa yang di omongkan asisten ato dosen (walopun tidak selalu saya seperti itu). Teman satu kelompok praktikum saya sekarang adalah temen-temen yang enak untuk diajak bertukar pikiran. Uniknya, saya dan teman Italia saya yang punya latar belakang sama dengan master yang kami ambil sekarang punya kemampuan bahasa inggris yang rata-rata (menjurus ke kadang-kadang gak mudeng hehehe). Sedangkan dua temen saya yang lain, dari Norwegia dan Cina, walopun mereka bahasa inggrisnya lancar mengalir seperti air, tapi sayangnya mereka bukan 'berasal' dari latar jurusan yang sama, sehingga kami berempat sama-sama sering gak mudengnya.

Suka dukanya kalo dapet temen satu kelompok yang sama-sama nggak mudeng apa yang akan dan seharusnya kita lakukan di praktikum. Kita selalu kompak. Kompak ngebagi tugas kerjaan. Kompak ngerjain laporan. Dan kompak clingukan cari asisten ketika kita sudah bener-bener blank apa yang musti kita kerjain. Kalo sang asisten nerangin sesuatu dengan cepet, bahkan temen saya yang norwegia dan cina juga jadi merasa nggak ngerti, kita berempat cuma bisa saling melihat dan saling ngasih kode 'ngomong apaan sih ni orang, gak ngerti deh!'. Dukanya, kadang setelah praktikum selesai, kita baru sadar bahwa data yang kita dapat bukan data yang seharusnya kita ambil ato kadang data kita kurang sehingga harus 'tambal sulam' dengan data kelompok lain untuk bisa membuat pembahasan dengan baik. Bikin kerja mengevaluasi jadi tambah berat saja. Itu juga masih ditambah molornya waktu yang kita perlukan untuk mengerjakan tugas karena temen dari Cina (kebetulan dia anak PhD dan tujuannya ikutan praktikum ini adalah 'pengen tau' aja. Haha!) selalu saja bertanya dulu tentang metodenya bagaimana, gunanya untuk apa, bahkan kadang hanya sekedar untuk mengulang kata-kata asisten, yang notabene kita semua sudah mengerti.

Tapi justru itu menunjukkan, bahwa yang namanya minder itu sama sekali tidak perlu. Minder karena bahasa inggrisnya cekak gak mengalir seperti air. Minder karena merasa gak paham. Minder karena ntar dianggap mengeluarkan pernyataan-pernyataan 'bodoh' (hei siapa yang berani ngomong begitu tu!). Minder karena takut diketawain. Sama sekali nggak perlu. Temen saya yang Italia, jujur saja bisa dibilang bahasa inggrisnya lebih parah dari saya (hehehe.. sedikit PD lah), mungkin karena sangat-sangat tidak familiar menggunakan bahasa inggris (bahkan film-film asing di italia di alih bahasa ke bahasa italia) walopun dia harus terbata-bata berbahasa inggris, tapi dia tetap dengan PDnya berkomunikasi dengan kita semua, melakukan presentasi, dsb. Teman saya yang dari Jepang, kadang bahkan saya harus menunggu beberapa detik setiap dia mencari-cari kosakata bahasa inggris yang tepat untuk diucapkan (walopun setelah dia nemu saya tetep nggak ngeh maksud dia apa), tapi yang saya sungguh salut dia tetap dengan PD berkomunikasi dengan orang lain. Pergi kesana kesini sendiri. Dan mencari informasi kesana kesini sendiri.

Ketidakbisaan seseorang memahami dengan cepat dalam bahasa yang berbeda ini, bukanlah sebuah tolok ukur yang mutlak untuk langsung mengatakan orang tersebut tidak pintar. Saya pikir semua ini hanya butuh waktu saja untuk beradaptasi, sehingga otak dengan sendirinya bisa memproses segala sesuatu dengan cepat dalam 'format bahasa' yang berbeda. Tanpa lingkungan yang mendukung dan membuat kita terbiasa melakukan komunikasi aktif dengan bahasa lain tentu membuat kita memiliki 'keterbatasan' dalam memahami percakapan, memahami permasalahan, mengungkapkan apa yang kita pikirkan (setuju atau tidak setuju akan sesuatu), menjawab, bertanya bahkan menanggapi suatu masalah. Yang justru membuat ini berbeda, apabila kita segera menyadari 'keterbatasan' kita itu dan segera mencari solusi untuk mengatasinya. Kerja keras yang lebih penting. Saya lebih suka mengatakan bahwa kebanyakan teman-teman saya yang memang sudah terbiasa menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-harinya adalah orang-orang yang beruntung di kelas ini. Tidak lebih pintar. Tapi hanya lebih beruntung. Apalagi teman-teman yang awalnya memang sudah bersekolah di TUD. Beruntung karena dengan mudah bisa mengikuti apa yang sedang dibicarakan. Beruntung karena sudah terbiasa dengan sistem pembelajaran yang diterapkan. Coba kalau mereka berada di posisi sebaliknya. Belajar di negara yang sama sekali lain bahasanya. Budayanya dan sistem pembelajarannya. Pasti kesulitan itu tetap selalu ada.

Ternyata memang, kalo namanya masih 'manusia' dimana-mana tetap sama saja. Tidak di Indonesia, tidak di negara lain, tipikal-tipikal itu pasti selalu akan ditemui.
Yang sombong, yang meremehkan, yang baik, yang merasa senasib. So, resep terbaik khusus menghadapi orang-orang bertipikal rese adalah : CUEKIN AJA.. Daripada makan ati hehehe.

Labels:

Saturday, November 11, 2006

Tentang EDELWEISS

Edelweiss (Leontopodium Alpinum), dalam bahasa Jerman berarti putih dan mulia. Ditemukan di tempat asal tumbuhnya, yaitu lereng-lereng pegunungan Asia, dalam 30 bentuk bunga yang berbeda-beda. Sebagai mana layaknya sebagai bunga gunung (bukan "kembang gunung", konotasinya jadi lain :D), edelweiss mampu beradaptasi dengan sangat baik pada iklim yang sangat dingin. Bunga ini biasanya tumbuh pada ketinggian 1700m hingga 2700m diatas permukaan laut dengan tinggi tanaman sekitar 8 - 20 cm.

Bunga yang sangat unik. Bunga yang digunakan untuk melambangkan banyak hal. Bunga yang bebas. Bebas menghirup udara alam, bebas menikmati silih bergantinya musim. Bunga yang begitu tangguh didera panas, dingin dan angin dan tetap bertahan hidup ditempatnya. Bunga yang bisa terlihat melalui keberanian dan semangat.

Bunga yang dalam jangkauanku berarti sebuah kebebasan dan keberanian untuk berbicara, seperti adanya dalam pikiran maupun hati. Berkomentar, mengkritisi, memberi saran akan sesuatu. Sesuatu yang biasa dan wajar bagi sebagian orang tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat sulit dilakukan untuk sebagian orang yang lain. Semoga si bunga tidak segera layu untuk tetap bisa menceritakan apa yang 'dilihat', 'didengar' dan 'dirasakannya'.

Labels:

Wednesday, November 08, 2006

WOW!! FINALLY...

Thanks God!!!

Setelah beberapa lama bercita-cita pengen bikin blog. Akhirnya kesampaian juga. Fiuh!!. Sebuah proses penantian mood yang panjang :D.
Modal 'nekat'.

Modal uneg-uneg yang tak kunjung menemukan tempat penyalurannya yang pas :).
Modal keinginan bertemu 2 orang tercinta dalam hidup.
Finally I have one!!
Semoga setelah posting pertama ini, masih ada sisa mood untuk melanjutkan 'perjuangan' mengisi posting-posting berikutnya :P.